waktu yang tepat saat membaca ini mungkin saat kita semua sudah mulai lupa tentang masa lalu kita, begitulah masa lalu belum bermakna saat masih jelas untuk diingat. tapi tak begitu penting kapan waktu untuk membacanya, asal kalian mau membaca saja mungkin itu sudah cukup untuk menjadikan kisah ini menjadi masa lalu.
hey kawan, empat tahun bersama di tempat yang sama pada masa yang sama, yaitu masa muda kita semua. disaat kalian mulai mengerti arti dari makna kehidupan, bukan karena banyaknya waktu yang kita habiskan bersama yang membuat kalian saling merasa dekat dan akrab. bukan itu, diantara kita ada yang idealis, ada yang kompromis dan bahkan ada yang tidak mengerti makna keduanya. tapi itu semua bukan masalah besar karena kalian semua tidak percaya pada masalah besar.
tapi yang jelas hanya satu hal, diantara kita juga ada yang bisa melupakan, dan ada juga yang susah melupakan. kita tidak pernah tahu akan menjadi orang yang seperti apa diantara kita semua, setiap dari kita punya jalan hidup sendiri. ada yang punya kesempatan menjadi orang besar, ada yang tidak punya kesempatan itu. keakraban dari tiap kita pun berbeda antara satu dengan yang lainnya, mungkin bahkan diantara kita ada yang belum sempat bertegur sapa, dan kita semua belum saling mengenal betul. kita hanya menebak-nebak sikap dari diantara kita juga.
Ada beberapa kalimat yang saya tahu dari Pramoedya Ananta Toer, kurang lebih seperti ini : Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana;biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.(Bumi Manusia). mungkin seperti itulah kita semua merasa saling mengenal tetapi sebenarnya belum saling mengenal kawan.
Pengalaman bersama sebagian dari kita, atau mungkin semuanya dari kita ada yang menarik dan tidak sedikit yang justru sangat tidak menarik. Sekarang, kini, dan nanti, maukah kalian untuk saling tetap bercerita tentang apa saja, asal jangan kalian ceritakan tentang kebahagian, karena kebahagian biarkan saja tetap ada di surga. saat ini saat kalian membaca ini perasaan diantara kalianpun pasti tidaklah sama, tentu sesuai dengan nilai tertinggi apa yang kita pegang dalam menjalani hidup.
melalui tulisan ini, aku ingin mengucapkan terimakasih sekaligus permohonan maaf kepada kalian semua yang pernah dekat, baik, dan simpati kepadaku, mungkin ada diantara kita yang sengaja atau bahkan tidak sengaja, ada yang tersadar mungkin juga tidak tersadar pasti sedikit banyak baik sikap yang tampak ataupun tak nampak telah melukai salah satu diantara kalian. ada iklan rokok yang cukup inspiratif yang menyebutkan bahwa meskipun sederhana hidup tetap harus dinikmati.
suatu saat diantara kalian ada yang mungkin berkesempatan menjadi orang besar, kalian boleh melupakan kami, tapi kalau kalian yang berkesempatan itu masih ingat diantara kami dan bahkan ingat kami semua, kami mungkin akan amat senang dan meskipun kalian lupa, kami akan tetap bangga pada kalian. ceritakanlah kepada kami saat kalian bisa menjadi orang besar, ceritakanlah walau hanya sebentar saja.
“kita tidak pernah menanamkan apa-apa, kita takkan pernah kehilangan apa-apa.”
baris yang bertanda petik di atas, merupakan salah satu bait dari puisi terakhir Soe Hok Gie, entah mengapa aku begitu menyukai kata-kata itu. aku menyukai bahasa meskipun aku bukan ahli bahasa, aku menyukai musik meskipun aku bukan musisi, aku menyukai sastra meskipun aku bukan sastrawan, aku menyukai puisi meskipun aku bukan puitis.
Juli 2011, ditulis di bawah sebuah kipas angin yang membuat malam menjadi semakin dingin.
kasihan juga masih aja pake kipas angin….
Pasti yang nulis si GPLS nih..
siapa tuh GPLS put?
masih to, lo udah pake apa emang?